~ SINAR MAWADDAH (~_^) ~

"Sebaik-baik iman adalah amal, Sebaik-baik amal adalah insan, Sebaik-baik insan adalah yang pemurah, Semurah-murah sedekah adalah senyuman, Sebaik-baik senyuman adalah yang menenangkan jiwa..."

Membaca Al-Quran

Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada hamba-Nya kitab Al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, yang diutus Allah sebagai rahmat bagi alam semesta.

Sesungguhnya Al-Quran diturunkan tidak lain kecuali untuk suatu tujuan yang agung yaitu sebagai pelajaran dan hukum. Adapun pada saat ini, banyak manusia yang meninggalkan kitab yang agung ini, tidak mengenalnya kecuali hanya pada saat-saat tertentu saja. Diantara mereka ada yang hanya membaca saat ada kematian, diantara mereka ada yang hanya menjadikannya sebagai jimat dan diantara mereka ada yang hanya mengenalnya pada saat bulan Ramadhan saja. Memang benar bahawa bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran, kita dianjurkan agar memperbanyak membaca Al-Quran pada bulan ini. Namun tidak sepantasnya seorang muslim berpaling dari kitab yang mulia ini di luar bulan Ramadhan kerana Allah swt telah menjanjikan keutamaan yang begitu banyak bagi para pembacanya meskipun diluar bulan Ramadhan.
Al-Quran diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim, direnungkan dan difahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan. Sehingga ia akan menjadi hujah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi syafa'at baginya pada hari Kiamat. Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Quran dan mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di akhirat, dengan firman-Nya: "Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (Thaha:123)
Janganlah seorang muslim memalingkan diri dari membaca kitab Allah, merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya. Allah telah mengancam orang-orang yang memalingkan diri darinya dengan firman-Nya: "Barangsiapa berpaling dari Al-Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di hari Kiamat" (Thaha : 100). "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (Thaha: 124)

Di antara keutamaan Al-Quran :

1. Firman Allah Taala: "Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri." (An-Nahl: 89)

2. Firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gelita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (Al-Ma'idah: 15-16)

3. Firman Allah Taala: "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi ouang-orang yang beriman." (Yunus: 57)

4. Sabda Rasulullah saw: "Bacalah Al-Quran, kerana ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa 'at bagi pembacanya." (HR. Muslim dari Abu Umamah)

5. Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiallahu 'anhu, katanya: Aku mendengar Rasul saw bersabda: "Didatangkan pada hari Kiamat Al-Quran dan para pembacanya yang mereka itu dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini." (HR, Muslim)

6. Dari Utsman bin Affan ra, katanya: Rasulullah saw bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya." (HR. Al-Bukhari)

7. Dari Ibnu Mas'ud ra, katanya: Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf." (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)

8. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash ra, bahawa Nabi saw bersabda: "Dikatakan kepada pembaca Al-Quran: "Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah kamu lakukan di dunia, kerana kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu baca." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan shahih)

9. Dari Aisyah ra, katanya: Nabi saw bersabda: "Orang yang membaca Al-Quran dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala." (Hadits Muttafaq 'Alaih). Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.

10. Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda: "Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara, iaitu: orang yang dikurniai Allah Al-Quran lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang dikurniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang". (Hadits Muttafaq 'Alaih). Yang dimaksud hasad di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang lain. (Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469)
Maka bersungguh-sungguhlah - semoga Allah menunjuki Anda kepada jalan yang diredhai-Nya - untuk mempelajari Al-Quranul Karim dan membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Taala. Bersungguh-sungguhlah untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Quran berupa keutamaan yang besar, pahala yang banyak, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat Rasulullah saw dahulu jika mempelajari sepuluh ayat dari Al-Quran, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara pengamalannya.
Dan perlu ketahui, bahawa membaca Al-Quran yang berguna bagi pembacanya, iaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau menjumpai ayat azab, ia berlindung kepada Allah dan takut akan seksa-Nya.
Al-Quran itu menjadi hujah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Quran itu menjadi hujah terhadap dirinya (mencelakainya). Firman Allah Taala: "lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai fikiran mendapatkan pelajaran." (Shad: 29)

Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Quranul Karim, sebagaimana firman Allah: "Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan permulaan Al-Quran..." (Al-Baqarah: 185)
Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap malam untuk membacakan kepadanya Al-Quranul Karim. Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Quran pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Quran kepada orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan Al-Quran pada bulan Ramadhan.
Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari Al-Quranul Karim, Rasulullah saw bersabda: "Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya." (HR. Muslim)

Ada dua cara untuk mempelajari Al-Quranul Karim :
1. Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda.
2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik. Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya banyak-banyak membaca Al-Quran di bulan Ramadhan pada malam hari, kerana malam merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman Allah: "Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu'), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." (Al-Muzzammil: 6)

Disunatkan membaca Al-Quran dalam kondisi sesempurna mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar. Boleh membaca sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kenderaan. Berdasarkan firman Allah: "(Iaitu) orang-orang yang zikir kepada Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring..." (Ali Imran: 191) Sedangkan Al-Quranul Karim merupakan zikir yang paling agung.

Kadar bacaan yang disunatkan. Disunatkan mengkhatamkan Al-Quran setiap minggu, dengan setiap hari membaca sepertujuh dari Al-Quran dengan melihat mushaf, kerana melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia, seperti: Ramadhan, Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Zulhijjah kerana memanfaatkan waktu dan tempat. Jika membaca Al-Qur'an khatam dalam setiap tiga hari pun baik, berdasarkan sabda Nabi saw kepada Abdullah bin Amr: "Bacalah Al-Quran itu dalam setiap tiga hari." (Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an, oleh Ibnu Katsir, him. 169-172 dan Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu Qaasim, hlm. 107)

Dan makruh menunda khatam Al-Quran lebih dari empat puluh hari, bila hal tersebut dikuatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata : "Betapa berat beban Al-Quran itu bagi orang yang menghafalnya kemudian melupakannya."

Dilarang bagi yang berhadas kecil mahupun besar menyentuh mushaf, dasarnya firman Allah Taala: "Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan." (Al-Waqi'ah: 79). Dan sabda Nabi saw: "Tidak dibenarkan menyentuh Al-Quran ini kecuali orang yang suci." (HR. Malik dalam Al-Muwaththa, Ad-Daruquthni dan lainnya)". Hal ini diperkuat hadits Hakim bin Hizam yang lafaznya: "Jangan menyentuh Al-qur'an kecuali jika kamu suci." (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih)

Al-Quranul Karim syari'at sempurna :

Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwaafaqaat mengatakan : "Sudah menjadi kesepakatan bahawa kitab yang mulia ini adalah syari'at yang sempurna, sendi agama, sumber hikmah, bukti kerasulan, cahaya penglihatan dan hujah. Tiada jalan menuju Allah selainnya, tiada keselamatan kecuali dengannya dan tidak ada yang dapat dijadikan pegangan sesuatu yang menyelisihinya. Kalau demikian halnya, mahu tidak mahu bagi siapa yang hendak mengetahui keuniverselan syariat, berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para ahlinya harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya sepanjang siang dan malam dalam teori dan praktik; maka dekat waktunya ia mencapai tujuan dan menggapai cita-cita serta mendapati dirinya termasuk orang-orang pendahulu, dan dalam rombongan pertama jika ia mampu. Dan tidaklah mampu atas hal itu kecuali orang yang senantiasa menggunakan apa yang dapat membantunya, iaitu sunnah yang menjelaskan kitab ini. Selainnya, adalah ucapan para imam terkemuka dan salaf pendahulu yang dapat membimbingnya dalam tujuan yang mulia ini." ( Lihat AI Muwafaqaat, oleh Asy-Syathibi, 31224)

Hukum melagukan Al-Qur'an :

- Pembaca dan pendengar Al-Quran yang hatinya disibukkan dengan lagu dan sejenisnya - yang dapat mengakibatkan perubahan firman Allah, padahal kita diperintahkan untuk memperhatikannya sebenamya menghalangi hatinya dari apa yang dikehendaki Allah dalam kitab-Nya, memutuskannya dari pemahaman firman-Nya. Mahasuci firman Allah dari hal itu semua. Imam Ahmad melarang talhin dalam membaca Al-Quran, yaitu yang menyerupai lagu, beliau berkata : "Itu bid'ah."
- Ibnu Katsir rahimahullah dalam Fadhaailul Quran mengatakan: "Sasaran yang diminta menurut syara' tiada lain iaitu memperindah suara yang dapat mendorong untuk merenungkan dan memahami Al-Quran yang mulia dengan khusyu', tunduk, dan patuh penuh ketaatan. Adapun suara-suara dengan lagu yang diada-adakan yang terdiri atas nada dan irama yang melalaikan, serta aturan musikal, maka Al-Quran adalah suci; dari hal ini dan tak layak jika dalam. Membacanya diperlakukan demikian." (Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an, oleh Ibnu Katsir, him. 125-126)
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: "Irama-irama yang dilarang para ulama untuk membaca Al-Quran yaitu yang dapat memendekkan huruf yang panjang, memanjangkan yang pendek, menghidupkan huruf yang mati dan mematikan yang hidup. Mereka lakukan hal itu supaya sesuai dengan irama lagu-lagu yang merdu. Jika hal itu dapat mengubah aturan Al-Quran dan menjadikan harakat sebagai huruf, maka haram hukumnya. (Lihat Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu Qaasim, hlm. 107)

Related Posts with Thumbnails
~ Ahlan ~ Selamat Datang ~ Welcome ~ Vanakam ~ Huang Ying ~

.::Asma al-Husna::.

.::Kalendar::.

.::Profil Penulis::.

My photo
Shah Alam, Malaysia
Salamunalaik wbt, I am Ikin. I really love music, fashionista, love poems, happy go lucky and easy going, simple.. but sometimes too complicated, talkative and suddenly will be so silent, like to make a jokes and always thinking to make somebody else smile and laugh with me. So, it's just pieces from me and nice to know you all out there. Salam ukhwah and happy browsing! May Allah swt bless us for always, insyaAllah..(^_^)

.::Tautan Dari Sahabat::.

.::Sahabat::.

.::Mari Celoteh::.

** Diharapkan apa jua yang "dilontarkan" diruangan chatbox ini adalah satu ungkapan yang ikhlas dari hati. Chatbox disediakan bukan untuk tujuan provokasi, bukan untuk menyindir dan bukan untuk menyakitkan hati hamba Allah swt yang lain. Berfikir sebelum menaip. Kerjasama pengunjung adalah amat dihargai. Semoga kita semua sentiasa diberkati Ilahi. Salam ukhwah dari pemilik blog. Sekian, terima kasih.(~_^)

.::Terimalah Taubatku::.

Hati hiba mengenangkan dosa-dosa yg ku lakukan...
Tuhan Maha Kuasa, terima taubat hamba berdosa...
Ku akui kelemahan diri...
Ku insafi kekurangan ini...
Ku kesali kejahilan ini...
Terimalah...taubatku ini...
Telah aku merasakan derita jiwa dan perasaan...
Kerana hilang dari jalan menuju redha-Mu ya Tuhan...

Ya Tuhan, terimalah...taubatku ini...(~_~)

.::Mutiara Kata::.

Kecantikan yang abadi terletak pada keelokkan adab dan ketinggian ilmu seseorang, bukan terletak pada wajah dan pakaiannya.~Hamka

Bagaimana juapun, kita hidup mesti beradat, dihapus adat lama pasti timbul adat baru.~Hamka

Keadilan yang ada pada diri seseorang raja, laksana sebentuk mutiara. Meskipun yang empunya telah mati, mutiara itu tetap tinggal dengan cahayanya.~Hukama

Kepercayaan agama menjelaskan bahawa manusia makhluk yang termulia darjatnya didalam alam. Penganut-penganut tiap-tiap agama mempercayai bahawa penganut agamalah yang paling mulia.~Hamka

Walaubagaimanapun alim seseorang itu, dia tidak akan dapat manfaat daripada ilmunya selagi ilmunya tidak berpedoman kepada akal.~Lukmanul Hakim

Ikhlas dan sejati akan bertemu didalam senyuman anak kecil, senyum yang sebenarnya senyum, senyum yang tidak disertai apa-apa.~Hamka

Bahagia sekali orang-orang yang menahan lidahnya daripada berkata-kata secara berlebih-lebihan dan mendermakan hartanya yang lebih.~Maksud Hadis

Yang menjadi kepala pemerintah ialah kebenaran dan yang menjadi hakim yang paling berkuasa ialah keadilan.~Hamka

Kalau engkau merasa berkuasa untuk membuat aniaya kepada hamba Allah, ingat pula bahawa Allah lebih berkuasa membalasnya.~Umar Al Khatab

Allah sangat menyukai orang-orang Mukmin yang mempunyai pekerjaan.~Hadis

Bertangguh itu pencuri masa.~Peribahasa Arab

Lebih baik menerima nama baik daripada harta.~Pujangga